Google+ Followers

Minggu, 14 April 2013

Misteri 999

Cerpen Budhi Wiryawan
ANGKA 999, adalah angka yang cantik.  Dalam kosmologi numerologi, sembilan adalah angka tertinggi, apalagi jika berjejer hingga tiga deret. Dalam primbon jawa, gunggung (jumlah) angka sembilan, yakni 9 + 9 = 18,  adalah neton  (hitungan) tertinggi, angka 18 jatuh pada hari Sabtu, dengan pasaran Pahing, jadi angka 18 jatuh pada Sabtu Pahing.
“ah lupakan saja angka 9 itu  ” kata mbah Dirjo
Namun bagi Mbah  Sastro, mimpinya menemu angka 999 itu mengandung firasat  dan misterius.
Mbah Sastro, sudah 30 tahun menjabat sebagai kaum rois di desa itu. Selaku kaum, tupoksi (tugas pokok dan funsinya) selain sebagai tokoh spiritual, memimpin upacara adat, seperti kenduri,  upacara bersih desa, upacara nyadran, mimpin tahlilan, juga “pangrupti” (mengurus) jenazah, mulai dari mengkafani, hingga upacara pemakaman jenazah.
Dalam tatanan protokoler dan birokrasi desa, jabatan kaum rois, adalah jabatan terhormat. Orang yang menyandang tugas sebagai kaum, tidak pernah mengenal jam kerja. Setiap hari, jam, menit, detik, ia harus stand by , apapun alasannya, terutama jika ada dari salah satu warganya meninggal. Sebab tak ada orang yang meninggal memilih pada jam kerja, layaknya jam kerja kantoran, pagi-siang hari.
Demikian juga bagi mbah Sastro. meski pekerjaan pokoknya adalah sebagai peternak sapi, namun “jejibahan” (tugas) yang diembannya selaku kaum rois, menuntutnya untuk  selalu siap, care, baik siang, sore, malam maupun pagi. Rumahanya selama 24 jam seolah tak berkunci pagar. Pintunya juga 24 jam siap diketok oleh siapapun yang membutuhkan jasa dan legitimasi dari beliau.
Masih soal angka 999. angka yang membuat kakek berusia 70 tahun ini selalu dihantui rasa galau, resah, karena menurutnya, mimpi yang ia dapatkan itu, tidak sembarang mimpi. Selain memilih waktu, malam Jumat Kliwon, di seputaran jam yang oleh masyarakat jawa disebut “Puspo Tajem” - puncak mimpi, antara jam 02.00-03.00 dini hari , mimpi itu pun berkelabat datang di saat ia baru saja berangkat tidur sepulang dari menjalani Iktikaf di masjid, yakni ibadah di malam hari yang dilakukan di bulan ramadhan.
“Ah semoga ini mimpi yang baik karena Tuhan mencintaiku, dan barangkali memberiku hadiah malam Lailatul qodar”  hibur Mbah Sastro dalam  hatinya.
******
SiANG yang panas, menyeterika seluruh tubuh desa. Sawah, kebun rumput gajah  kandang ternak, dan orang-orang yang lalau lalang menggembalakan sapinya di seputaran kandang ternak kelompok desa itu, merasakan betapa cerah dan panasnya cuaca hari itu.
Kebetulan hari itu dokter dan mantri hewan dari kabupaten berkunjung di Kelompok Ternak Andini Mukti desa Sawo Kembar, untuk memberikan penyuluhan sekaligus memberikan pelatihan soal penanganan inseminasi buatan ( kawin suntik).
Seluruh peternak, pagi itu sudah berkumpul di brak atau semacam aula yang dibangun di dekat kandang ternak , untuk menyambut rombongan dari kabupaten. Mbah Sastro yang ditunjuk oleh kelompok itu seabagai penasihat, ikut menyambut kedatangan rombongan. Setelah acara sambutan, giliran tim kabupaten itu menyiapkan peralatan untuk acara demo / pelatihan penanganan inseminasi buatan. Kelompok ternak telah menyiapkan juga tim-nya.  Semula mbah Sastro tidak dilibatkan dalam acara praktek/ demo ini, karena usianya yang sudah sepuh (tua) namun karena semangatnya yang luar biasa, dia merajuk ingin ikut menjadi anggota tim yang nantinya akan diajari praktek bagaimana melakukan kawin suntuk untuk ternak sapinya.
Setelah selesai memberi contoh dan memperagakan bagaimana menangani kawin suntik yang efektif dan efisien, giliran kelompok ternak  langsung diminta  praktek. Di awal,  acara berlansung mulus, karena sapi yang telah disiapkan umumnya pada nurut. Tapi giliran sapi ketiga, tampaknya agak rewel. Baru saja dituntunt menuju tempat praktek, sapi itu tiba-tiba mengamuk, para peternak berusaha  untuk menguasai keadaan, tapi apa yang terjadi, di saat sapi itu mengamuk, tiba-tiba tubuh Mbah Sastro diseruduk dari belakang. Tersungkurlah tubuh simbah ini, hingga tak sadarkan diri. Suasana menjadi kacau, teriak histeris mewarnai tempat itu. Dalam posisi terjatuh mbah Sastro kemudian dilarikan ke rumah sakit.Tapi….. sebelum sampai  rumah sakit, nyawanya tidak tertolong. Inna Lillahi wa inna illaihi rojiun.
*******
SETELAH prosesi pemakaman selesai, Mbah Dirjo, sahabat karib mbah Sastro sempat bercerita kepada beberapa orang, tentang firasat angka 999 itu. Dan ternyata sesuai dengan buku register yang selalu disimpan Mbah Sastro tentang daftar nama warga yang meninggal, nomor urut 999 itu adalah Mbah Sastro itu sendiri. Kaum rois, yang beberapa malam ini galau oleh mimpinya, tentang angka 999 itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar harus menggunakan kata-kata yang sopan.