Google+ Followers

Rabu, 20 Maret 2013

Imam Mahdi atau Satrio Piningit? Siapa Mereka Sesungguhnya?

Banyak sekali berita tentang kehadiran orang yang mengaku sebagai nabi atau imam mahdi di akhir akhir ini. Sesungguhnya fenomena apa yang menyebabkan hal ini terjadi? KKemungkinan besar karena orang sepertinya mencari sandaran baru. Mencari sesuatu yang baru ini dikarenakan sudah jenuh dengan keadaan yang ada. Namun sesungguhnya, mengapa mesti mencari sandaran di luar diri? Mereka lupa bahwa dirinya di huni oleh keagungan ilahi. Satu satunya wujud nyata keberadaan Nya adalah pada diri manusia. Tergantung bagaimana diri si manusia menunjukkan bukti ini.

Lupa akan jati dirinya membuat manusia mencari sandaran di luar diri. Kita lupa bahwa nabi merupakan contoh nyata bahwa manusia bisa menjadi manusia yang Agung dan suci. Bersandar pada orang lain membuktikan kita masih tertidur, belum sadar akan jati dirinya. Kesadaran akan jati diri akan membangkitkan potensi yang terpendam. Setiap manusia memiliki potensi yang sama. Potensi tersebut ibarat biji yang tertanam dan tidak bisa berkembang tumbuh menjadi pohon jika tidak diupayakan sendiri. Bagaimana kita bisa tahu? Setiap zaman dapat dipastikan hadirnya utusan. Keterbukaan diri yang dibutuhkan untuk menyadari kehadiran utusan Tuhan.

Namun disebabkan pergaulan yang tidak menunjang, akhirnya kita  tidak bisa membuka diri. Hipnotis massal yang mengakibatkan kita tertidur dan sangat nyaman dengan kondisi ini sehingga kita mematikan potensi keilahian tersebut. Siapa yang bertanggung jawab terhadap kebangkitan jiwa Agung di dalam diri? Bukan orang lain, kita sendiri. Karena sesungguhnya kita mesti bertanggung jawab atas kebebasan jiwa dari sangkar mind. Kita tidak sadar oleh hipnotis lingkungan kita sehingga berakibat tidak tumbuhnya biji kesadaran menjadi pohon kesadaran.

Dari dulu kita diberitahu adanya Satrio piningit atau imam mahdi yang datang untuk menyelamatkan manusia. Siapakah Satrio piningit atau imam mahdi tersebut? Bukan lain orang, itulah diri sendiri. Satrio adalah sifat atau watak yang berbudi luhur. Kemuliaan diri ini secara alami sesungguhnya sudah ada dalam diri kita. Potensi ini selama ini tertutup oleh pengaruh lingkungan. Pergaulan yang  tidak menunjang agar jiwa Satria yang ada dalam diri. Oleh karenanya banyak nasehat agar kita menjaga pergaulan. Bergaul lah dengan mereka yang sudah bangkit kesadaran akan jati dirinya. Jauhilah pergaulan yang tidak menunjang pembangkitan kesadaran diri.

Jiwa Satria yang ada dalam diri tetap ter 'pingit' atau tersembunyi jika tidak digali atau dimunculkan. Kita sendiri pembunuh jiwa Satria yang ada dalam diri jika tidak mau bergaul dengan orang yang sudah mampu membangkitkan jiwa Satria keilahian dalam diri.

Jika kita mau, pasti alam akan mendukung kebangkitan sang Satria piningit atau tersembunyi. Karena itu lah potensi diri yang satu dan sama setiap insan. Kesadaran akan adanya biji yang mulia dalam diri mengakibatkan kita tidak lagi percaya akan Satrio piningit atau imam mahdi di luar diri. Imam mahdi hanya ada dalam diri sendiri. Bukan di luar diri. Tidak perlu silau dengan mereka yang mengaku sebagai imam mahdi atau Satrio piningit. Mereka laku karena kita mendengarkan kata mereka. Keberadaan mereka akan punah dengan sendirinya jika tidak ada yang  mau mendengarkan kata mereka. Mulailah berjalan ke dalam diri, dan jadilah imam mahdi atau Satrio piningit bagi diri sendiri. Tidak adanya gunanya pamer, karena ini bukan sesuatu yang mesti dipamerkan. Jika sedikitpun ada keinginan untuk pamer, berarti Anda belum bisa menjadi imam mahdi atau Satrio piningit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar harus menggunakan kata-kata yang sopan.