Google+ Followers

Minggu, 27 Januari 2013

Kultum : Bahaya Kesombongan


يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
"Wahai manusia kalian semua fakir sangat membutuhkan Allah sedangkan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (al-Fathir: 15)

Status fakir di hadapan Allah swt kita sandang selamanya. Banyaknya memiliki sesuatu, baik harta maupun ilmu, sama sekali tidak mengangkat derajat kita menjadi kaya di hadapan Allah karena apa pun yang kita rasa sebagai milik kita sebenarnya bukanlah milik kita. Perasaan memiliki pada diri kita tidak sedikit pun mengubah kenyataan bahwa semua ini, bahkan diri-diri kita, adalah milik Allah semata.

Hari ini kita dapat mengatakan 'ini tangan saya, ini kaki saya dan ini kepala saya'. Tetapi seratus tahun lalu, jangankan menunjukkan tangan, kaki atau kepala, bahkan nama pun kita tidak punya. Siapakah yang pertama kali menciptakan tangan, kaki dan kepala ini? Allah yang menciptakan semua itu lebih pantas disebut pemilik sementara, kita lebih tepat disebut peminjam.

Hari ini kita dapat mengaku 'ini tanah saya'. Seratus tahun lalu tanah itu bukan milik kita, milik orang lain. Sebelumnya, milik orang lain lagi. Bapak kita Adam as adalah pemilik yang pertama. Tetapi sebelum bapak kita Adam hadir di bumi, bumi adalah tanah tak bertuan. Dia yang menciptakan bumi lebih pantas disebut pemilik bumi dan kita hanya menumpang untuk berpijak. Udara, sinar matahari, langit yang menaungi, rezeki yang datang setiap hari semua adalah milik Allah Ta'ala dan kita hanyalah para peminjam tanpa pernah membayar.

Adalah buruk mengaku-ngaku sesuatu yang bukan milik kita sebagai milik kita. Lebih memalukan lagi kalau seseorang merasa sombong dengan sesuatu yang bukan miliknya.

Kesombongan adalah salah satu penyakit qalbu yang paling mematikan. Penyakit ini membuat seseorang terlempar jauh dari hakikat kefakirannya. Bagaikan benda langit yang terpental dari orbitnya, kehancuran sedang menantinya. Sebelum hadirnya kesombongan di hati seseorang, hati itu terlebih dahulu telah dikuasai dua hal yang tidak kalah mengerikannya yaitu kebodohan dan kebohongan. Bodoh dalam arti tidak mengerti hakikat diri dan hakikat Tuhannya, bohong dalam arti membohongi diri sendiri karena setiap ekspresi kesombongan dalam rasa, kata dan gerak semuanya membelakangi kebenaran dan jauh dari kenyataan yang sebenarnya.

Bila kebodohan sudah tindih menindih, kebohongan semakin menjadi-jadi dan kesombongan sudah tidak dapat ditoleransi lagi maka hanya ada satu obat mujarab untuk membangunkannya, yaitu azab. Bersabda Nabi saw:
الْعِزُّ إِزَارُهُ وَالْكِبْرِيَاءُ رِدَاؤُهُ فَمَنْ يُنَازِعُنِي عَذَّبْتُهُ
" Kebesaran adalah pakaian-Nya dan kesombongan adalah selendang-Nya. (Allah Ta'ala berfirman): Barang siapa menyaingi Aku pada keduanya pasti Aku azab ia."
(HR. Muslim dari Abu Hurairah ra)

Rasa, kata dan sikap yang sombong ibarat magnet yang menarik bencana. Al-Quran mengisahkan nasib tiga mahluk Allah yang menebar kesombongan akhirnya menuai azab, tidak saja di akhirat tetapi di dunia pun sudah didapatkan. Mereka adalah Iblis, Fir'aun dan Qarun.

Iblis adalah bala tentara Allah Ta'ala dalam jajaran malaikat. Hanya saja bahan penciptaannya berbeda, malaikat dari cahaya dan Iblis dari api. Ketika Allah swt telah menyempurnakan penciptaan Adam as, Allah pun meniupkan ruh-Nya kepada Adam lantas memerintahkan malaikat untuk bersujud padanya. Mereka semua bersujud, kecuali Iblis. Melihat keengganan Iblis untuk bersujud, Allah pun bertanya motif pembangkangannya itu. Allah berfirman " Apa yang membuatmu tidak bersujud ketika Aku perintahkan?" Iblis menjawab," Aku lebih baik dari pada dia. Engkau ciptakan aku dari api sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah." Menanggapi sikap sombong Iblis yang tidak mau bersujud berikut alasan itu, Allah Ta'ala berfirman:
فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ
"Turunlah engkau dari surga karena tidak pantas engkau berlaku sombong di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya engkau termasuk orang yang hina."(QS.al-A'raf: 13)

Datanglah kemudian Fir'aun dengan kesombongan lebih hebat di banding Iblis. Iblis masih mengakui Allah sebagi Rabb (Tuhan) yang menciptakannya. Fir'aun malah menyatakan," Ana Rabbukum al-A'lâ (Akulah Rabb kalian yang paling tinggi)."

Mendalami kisah Musa as dan Fir'aun dalam al-Quran membuat bulu kuduk merinding. Betapa tidak, Allah Ta'ala mengirim Musa yang masih bayi ke istana Fir'aun melalui aliran sungai Nil yang membelah istananya, lalu keluarga Fir'aun pun memungutnya dan membesarkannya. Kita bisa mengatakan, Musa dibesarkan oleh Fir'aun dengan uang dari koceknya sendiri tanpa sadar bahwa ia sedang membesarkan orang yang akan menenggelamkanya di laut Merah. Subhânallâh! Setalah dewasa, Musa diangkat menjadi Rasul Allah dengan dua misi, mengajak Fir'aun beriman kepada Allah dan membawa Bani Israil keluar dari Mesir. Fir'aun menolak ajakan Musa. Suatu malam Musa mendapat perintah Allah untuk membawa keluar bani Israil dari Mesir. Fir'aun dan bala tentaranya mengejar di belakang. Musa pun membelah laut Merah dengan tongkatnya. Bani Israil menyeberang dengan selamat. Jurang kematian menanti FIr'aun. Ketika Fir'aun sedang melintas di tengah lautan yang terbelah dengan maksud mengejar Bani Israil, Allah pun menutup laut itu kembali.Tragis, ketika hampir mati tenggelam Fir'aun bertaubat, sambil berkata:
آَمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا الَّذِي آَمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ
"Aku beriman bahwa tidak ada tuhan kecuali Tuhan yang diimani Bani Israil dan aku sekarang adalah seorang muslim."(QS.Yunus: 90).
Tetapi pintu taubat sudah tertutup baginya. Dia pun mati dalam azab.

Qarun sombong karena harta berlimpah. Saking kayanya, untuk memikul kunci-kunci tempat penyimpanan hartanya saja sudah memayahkan orang-orang kuat sekalipun. Menjawab nasehat orang yang mengajaknya beramal menggunakan harta Qorun dengan angkuh mengatakan:
إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي
"Harta ini aku dapatkan karena ilmuku."(QS.al-Qashash: 78)

Ketika Qarun sedang berjalan congkak dengan kemegahannya tiba-tiba Allah membuka bumi tempat ia berpijak dan menenggelamkan Qarun berikut rumah dan hartanya ke dalam bumi.

Bumi dan air sangat kita butuhkan. Bumi tempat berpijak dan air untuk kehidupan. Tapi melalui bumi dan air pula Allah membinasakan kedua mahluk yang sombong itu. Fir'aun mati tenggelam di laut, Qarun mati terbenam di bumi.

Kita tidak usah mencapai maqam kesombongan setinggi Iblis, sehebat Fir'aun atau seperti Qarun. Satu butir atom kesombongan yang bercokol di qalbu sudah cukup untuk menutup seluruh pintu surga. Bersabada Nabi kita saw:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
"Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan meski sebutir atom."
(HR. Muslim dari Abdullah bin Mas'ud ra)

Sebutir atom yang tidak dapat terlihat oleh kasat mata dapat menghalangi orang meraih kenikmatan surga seluas langit dan bumi. Bagaimana kalau sombongnya bukan hanya satu butir atom, tetapi berbutir-butir? Dan peluang untuk sombong sangatlah besar. Karena bahan untuk sombong demikian banyak. Kepintaran, ilmu, kegantengan, kecantikan, anak, harta, pengikut, nasab, kesalehan, semuanya dapat menjadi bahan untuk sombong.

Hadits tentang bahaya sombong di atas telah menggetarkan seorang laki-laki yang mendengarnya dan ia pun bertanya kepada Rasulullah saw," Seseorang itu tentu senang kalau pakaiannya bagus dan sandalnya pun indah. Apakah itu sombong?" Beliau saw menjawab pertanyaan tersebut dan menerangkan hakikat sombong," Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran (bathru al-Haq) dan merendahkan orang lain (ghamtu al-Nâs).

Sombong rupanya tidak terkait dengan keindahan pakaian, kebagusan mobil, kemegahan rumah, kesusksesan anak-anak, banyaknya pengikut, ketinggian ilmu, kesalehan amal, tetapi rupanya kesombongan terkait dengan sikap dan perilaku kita ketika kita telah memperoleh semua itu. Kalau semua itu menjadi alasan bagi kita untuk mengatakan 'saya lebih baik dari anda karena saya lebih kaya, lebih pintar dan lebih sukses'lalu kita tidak mau mendengarkan kebenaran yang keluar dari lisan orang itu, maka itulah kesombongan.

Dan kalau itu yang terjadi, sebenarnay kita sedang mengundang datangnya bencana dari Allah. Dan rencana Allah demikian rapi. Fir'aun membesarkan Musa tanpa tahu bahwa ia akan ditenggelamkan oleh Musa di laut Merah. Sehingga tidak sulit bagi Allah untuk menghukum seseorang yang sombong melalui bahan-bahan kesombongannya sendiri, melalui hartanya, anaknya, pangkat, pengikut, kepintaran bahkan kesalehannya.

Hanya Allah swt al-Mutakabbir saja yang pantas untuk sombong karena ada dan tiada mahluk ada dalam kehendak-Nya sedangkan keberadaan-Nya sama sekali tidak bergantung pada mahluk-mahluk-Nya. Dia lah yang maha terpuji baik Zat, sifat maupun perbuatan-perbuatan-Nya. Sebagai hamba, hanya sembah sujud penuh kerendahan kita persembahkan di hadapan kebesaran dan keagungan-Nya seraya bertasbih:
سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوتِ وَالْمَلَكُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ
"Maha suci Dia pemilik keperkasaan, kekuasaan, kebesaran dan keagungan."
(HR.Abu Dawud dari 'Auf bin Malik al-Asyja'i ra)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar harus menggunakan kata-kata yang sopan.